Syarat-syarat diterima syahadah
Ketika ada orang bertanya kepada Wahb bin Munabih, “Bukankah Lailahaillallah ialah pintu syurga?” ia menjawab, “benar, namun tidak ada satu kunci pun kecuali mempunyai gigi-gigi. Jika engkau menggunakan kunci yang bergigi, pintu akan terbuka. jika tidak, tidak akan terbuka”.
Gigi-gigi kunci itu ialah syarat-syarat Lailahaillallah:
1) Ilmu yang menolak kejahilan
Ilmu yang diperluka ialah untuk mengetahui dan memahami yang dimaksudkan dengan kalimah syahadah samada penafian ataupun penetapan. Allah SWT berfirman:
“Maka ketahuilah, bahawa Sesungguhnya tidak ada Ilah (sesembahan, Tuhan) selain Allah dan mohonlah ampunan bagi dosamu dan bagi (dosa) orang-orang mukmin, laki-laki dan perempuan. dan Allah mengetahui tempat kamu berusaha dan tempat kamu tinggal.” (47:19)
“Allah menyatakan bahawasanya tidak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang menegakkan keadilan. Para Malaikat dan orang-orang yang berilmu (juga menyatakan yang demikian itu). tak ada Tuhan melainkan Dia (yang berhak disembah), yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (43:86)
Rasulullah SAW bersabda daripada Utsman ra “ Barangsiapa meninggal, sedang ia mengetahui bahawa tidak ada tuhan yang disembah melainkan Allah maka ia masuk syurga.
2) Keyakinan yang menghapuskan keraguan
Setiap manusia yang melafazkan kalimah agung ini haruslah meyakini dengan sebenar-benarnya kandungan kalimat ini kerana iman yang berguna hanyalah ‘ilm al-yaqin dan bukan sekadar ‘ilm azh-zhan. Allah SWT berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (49 : 15)
Rasulullah SAW bersabda “ Aku bersaksi tiada tuhan yang disembah melainkan Allah dan bahawa aku ialah utusan Allah. Tidak seorang pun hamba Allah yang bertemu Allah dengan kedua kalimat ini dan tidak ragu-ragu tentang keduanya, kecuali masuk syurga”
Imam Al-Qurtubi mengatakan dalam Al-Mufhim ‘ala Shahih Muslim ada bab “tidak cukup dengan melafazkan shahdatain, tapi harus dengan keyakinan hati” . Semua bukti ini menunjukkan rusaknya fahaman Murji’ah yang mengatakan melafazkan shahadatain cukup dalam keimanan. Konsekuensinya ialah membenarkan kemunafikkan, sedangkan menganggap orang munafik sebagai beriman ialah satu kebatilan.
3) Penerimaan yang menafikan penolakan.
Menerima konsekuensinya dengan hati dan lisan. Allas SWT telah menceritakan tentang perihal umat terdahulu yang mendapat penyiksaan bagi mereka yang menolaknya dan keselamatan kepada yang menerimanya.
“dan Demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang yang hidup mewah di negeri itu berkata: "Sesungguhnya Kami mendapati bapak- bapak Kami menganut suatu agama dan Sesungguhnya Kami adalah pengikut jejak-jejak mereka". (Rasul itu) berkata: "Apakah (kamu akan mengikutinya juga) Sekalipun aku membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk daripada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?" mereka menjawab: "Sesungguhnya Kami mengingkari agama yang kamu diutus untuk menyampaikannya." Maka Kami binasakan mereka maka perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu.” (43:23-25)
“Sesungguhnya mereka dahulu apabila dikatakan kepada mereka: "Laa ilaaha illallah" (Tiada Tuhan yang berhak disembah melainkan Allah) mereka menyombongkan diri, dan mereka berkata: "Apakah Sesungguhnya Kami harus meninggalkan sembahan-sembahan Kami karena seorang penyair gila?" (37:35-36)
4) Ketundukan/amal yang menolak penentangan dan sikap statik
Allah SWT berfirman:
“dan Barangsiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah, sedang Dia orang yang berbuat kebaikan, Maka Sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang kokoh. dan hanya kepada Allah-lah kesudahan segala urusan.” (31:22)
“Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (4:65)
Ibnu Kathir dalam tafsirnya mengatakan, “Allah SWT bersumpah dengan dirinya yang maha mulia lagi suci, bahawa seseorang belum beriman sehinggalah dia menjadikan Rasulullah SAW sebagai hakim dalam segala persoalan. Segala sesuatu yang telah diputuskan oleh Rasul ialah kebenaran yang wajib dipatuhi secara zahir dan batin. Oleh itu Allah berfirman “kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya”. Ertinya apabila mereka berhakim kepada rasul, tidak terdapat dalam hati mereka rasa keberatan sedikit pun terhadap keputusan rasul. Sehingga mereka tunduk sepenuhnya tanpa perlawanan, protes, dan penentangan.
Rasulullah SAW bersabda “ tidak beriman seseorang antara kalian sehinggalah hawa nafsunya tunduk kepada ajaran yang aku bawa”
5) Kejujuran yang menolak kedustaan
Pengungkapan kalimah ini haruslah jujur dari hati dan lidahnya sejalan dengan hatinya. Allah SWT berfirman:
“Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. dan Sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, Maka Sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan Sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.” (29: 1-3)
“di antara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan hari kemudian," pada hal mereka itu Sesungguhnya bukan orang-orang yang beriman. mereka hendak menipu Allah dan orang-orang yang beriman, Padahal mereka hanya menipu dirinya sendiri sedang mereka tidak sadar. dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambah Allah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih, disebabkan mereka berdusta.” (2: 8-10)
Raulullah SAW bersabda “ Tidak seorang pun yang bersaksi bahawa tiada tuhan yang disembah melainkan Allah dan Muhammad ialah hamba dan utusanNya dengan jujur dari hatinya, kecuali Allah mengharamkannya disentuh api neraka. (HR Bukhori dan Muslim)
Al-allamah Ibnul Qayyim berkata “ Membenarkan Lailahaillallah menuntut adanya ketundukan dan pengakuan hak-haknya iaitu syariat islam yang merupakan penjelmaan kalimat tauhid ini, dengan membenarkan seluruh berita-beritanya, menunaikan perintah-perintahnya, dan menjauhi larangan-larangannya. Orang yang membenarkannya pada hakikatnya adalah yang melakukan itu semua. Adalah sudah maklum bahawa telah terpelihara harta dan darahnya secara mutlak, tidak akan ada kecuali dengan kalimat itu dan dengan menunaikan segala haknya, Demikian juga keselamatan dari azab secara mutlak, tidak akan terjadi kecuali dengan kalimat ini dan dengan menunaikan haknya.” At-tibyan fi Aqsam al-Qur’an
Ibnu Rajab mengatakan “Adapun orang yang mengucapkan Lailahaillallah dengan lidahnya, kemudian mentaati syaitan, kecenderungannya adalah bermaksiat dan menentang Allah, sebenarnya perbuatan itu telah mendustakan perkataannya. Kemurniaan tauhidnya berkurang seuai dengan kadar kemaksiatannya kepada Allah itu dalam menuruti syaitan dan hawa nafsunya.”
“Maka jika mereka tidak Menjawab (tantanganmu) ketahuilah bahwa sesungguhnya mereka hanyalah mengikuti hawa nafsu mereka (belaka). Dan siapakah yang lebih sesat daripada orang yang mengikuti hawa nafsunya dengan tidak mendapat petunjuk dari Allah sedikitpun. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim.” (28:50)
6) Ikhlas yang menolak syirik
Nabi SAW telah bersabda “ Orang yang paling bahagia dengan syafaatku adalah orang yang mengucapkan Lailahaillalllah secara tulus ikhlas dari hatinya, atau dari jiwanya” (HR Bukhori)
“Sesungguhnya Allah mengharamkan atas api neraka, orang yang mengucapkan Lailahaillallah dengan maksud mengharapkan redha Allah SWT.” (HR Muslim)
“Allah membuat perumpamaan (yaitu) seorang laki-laki (budak) yang dimiliki oleh beberapa orang yang berserikat yang dalam perselisihan dan seorang budak yang menjadi milik penuh dari seorang laki-laki (saja); Adakah kedua budak itu sama halnya? segala puji bagi Allah tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.” (39:29)
Al-Fudhail bin Iyadh rahimahullah berkata “ Sesungguhnya amal perbuatan jika sudah ikhlas namun tidak benar tidak akan diterima. Jika benar tapi tidak ikhlas juga tidak diterima sebelum menjadi amal yang ikhlas dan benar. Ikhlas jika ia hanya kerana Allah, sedangkan benar bererti mengikut sunnah.” (Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah- Iqtidha’ush-Shirath al-Mustaqim Mukhalafatu Ashab al-Jahim)
7) Kecintaan yang menolak kebenciaan
Mencintai kalimat ini, apa yang menjadi konsekuensinya, dan kandungan-kandungannya, mencintai orang yang memiliki, mengamalkan,dan komitmen dengan syarat-syaratnya, serta membenci segala sesuatu yang menggugurkan hal itu. Allah SWT berfirman :
“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah. Adapun orang-orang yang beriman Amat sangat cintanya kepada Allah. Dan jika seandainya orang-orang yang berbuat zalim itu[106] mengetahui ketika mereka melihat siksa (pada hari kiamat), bahwa kekuatan itu kepunyaan Allah semuanya, dan bahwa Allah amat berat siksaan-Nya (nescaya mereka menyesal).” (2:165)
Syaikh Hafizh Al-hakami rahimahullah mengatakan “Indikasi kecintaan seseorang hamba kepada tuhannya ialah mendahulukan cintaNya sekalipun hawa nafsunya menentangnya, membenci apa yang dibenci oleh tuhannya sekalipun hawa nafsu cenderung kepadanya. Memberikan kesetiaan kepada orang yang setia kepada Allah dan RasulNya, memusuhi orang yang memusuhiNya, mengikuti RasulNya, meniti jejaknya dan petunjuknya”
Ibnul Qayyim dalam “An-Nuniyah” mengatakan “syarat kecintaan adalah engkau sejalan dengan siapa yang engkau cintai demi cintanya tanpa ada mendurhakainya. Jika engkau mencintainya tetapi engkau menentang hal yang dicintainya, bererti engkau bohong. Pantaskah kamu mencintai musuh kekasihmu, sementara engkau mengaku mencintainya? Itu tidak mungkin. Selain itu engkau serius memusuhi orang-orang yang dicintainya. Mana cinta itu wahai saudara syaitan? Bukanlah ibadah jika tidak menyatukan kecintaan, disertai ketundukan hati dan anggota badan.”
Beliau juga mengatakan “ Kita lihat kemusyrikan yang sangat jelas pada sekelompok orang yang mengaku islam. Mereka menjadikan sekutu-sekutu bagi Allah, loyal dan menyetarakan mereka denganNya dalam kecintaan bukan dalam kekuasaan”
Rasulullah SAW bersabda “Tiga hal barangsiapa dalam dirinya ada ketiganya akan mendapatkan manisnya iman; Apabila Allah dan Rasulnya lebih ia cintai daripada selain keduanya, apabila seseorang mencintai seseorang yang lain, ia tidak mencintainya kecuali kerana Allah, dan apabila ia tidak ingin kembali kepada kekafiran setelah Allah menyalamatkannya dari kekufuran sebagaimana ia tidak mahu dicampakkan ke dalam api neraka” (HR Bukhori)
Rujukan : Al-wala' wa al-bara'
Tuesday, March 3, 2009
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
0 comments:
Post a Comment